Tinggalkan komentar

Kebudayaan Korea


 Budaya PerkawinanKebudayaan garis keluarga di Korea adalah berdasarkan atas sistem Patrilinial. Pria memegang peranan penting dalam kesejahteraan keluarkan dan diwajibkan untuk bekerja. Wanita diperbolehkan untuk bekerja hanya kalau diperbolehkan oleh suami atau jika hasil kerja suaminya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tugas utama wanita adalah untuk mengasuh anak dan menjaga rumah.

Budaya perkawinan Korea sangat menghormati kesetiaan. Para janda, walaupun jika suami mereka mati muda, tidak dizinkan menikah lagi dan harus mengabdikan hidupnya untuk melayani orang tua dari suaminya. Begitu juga yang terjadi pada seorang duda yang harus melayani orang tua dari istrinya walaupun istrinya tersebut mati muda.

Upacara pernikahan tradisional pada suatu bangsa merupakan bagian dari
nilai-nilai tradisional dan budaya bangsa tersebut. Begitupun dengan pernikahan
tradisional Korea mencerminkan nilai-nilai budaya yang ada di negara Korea. Dulu
upacara tradisional pernikahan Korea sangatlah rumit tetapi sekarang telah
disederhanakan dan tata caranya telah dipadatkan.
Proses pernikahan tradisional Korea terdiri dari:
1. Eui Hon ( Pernikahan yang telah diatur oleh orang tua )
Para orang tua mengumpulkan informasi tentang calon mempelai pria dan wanita, tentang kedudukan sosial, pendidikan dan asal usul keluarga mereka. Jika informasi yang dikumpulkan telah cukup maka orangtua calon mempelai pria akan menyampaikan lamaran kepada orang tua calon mempelai wanita. Dalam acara lamaran ini hanya orang tua kedua belah pihak yang dapat bertemu dengan calon mempelai pria atau calon mempelai wanita. Kedua calon mempelai baru akan dipertemukan untuk pertama kalinya pada upacara pernikahan mereka.
2. Napcae ( Penentuan tanggal )
Setelah lamaran diterima, orang tua calon pengantin pria akan mengirim Saju,
yang menyatakan secara terperinci tahun, bulan, tanggal dan jam kelahiran
calon pengantin pria sesuai dengan kalender kepada keluarga caon mempelai
wanita. Saju dibungkus dengan menggunakan cabang-cabang bambu dan
diikat benang merah dan benang biru. Terakhir keseluruhan dari saju
dibungkus dengan Sajubo yaitu kain pembungkus berwarna merah di dalam
dan berwarna biru di bagian luar.Berdasarkan informasi yang tercantum dalam Saju, seorang peramal
menetapkan tanggal pernikahan yang terbaik. Keluarga calon mempelai wanita
kemudian mengirim Yeongil kepada keluarga calon pengantin pria yang
menyatakan tanggal pernikahan sebagai balasan dari saju.

3. Nappae ( Tukar menukar barang berharga )
Sebelum pernikahan, keluarga pengantin pria akan mengirim hadiah-hadiah
kepada mempelai wanita dan keluarganya dalam sebuah kotak yang
dinamakan Ham. Hamijabi ( orang yang menyampaikan Ham ) disertai oleh
beberapa orang teman dekat dari mempelai pria.
Ham biasanya berisikan 3 macam benda, yaitu Honseo (kertas pernikahan ),
Chaedan yaitu kain tenun berwarna merah dan biru, untuk membuat pakaian.
Kain biru diikat dengan benang merah dan kain merah diikat dengan benang
biru. Kedua warna ini menggambarkan filosofi Eun/Yang ( Yin/Yang ).

Honseo ( kertas pernikahan ) diselubungi dengan kain sutera merah, dalam
surat tercantum nama dari pengirim dan maksud dari pengirimnya yaitu
pernikahan. Honseo ini melambangkan pengabdian isteri kepada suami satusatunya dan sang isteri diharuskan menjaga dokumen ini selamanya dan
mengubur bersama jasadnya bila ia meninggal dunia.
Honseo juga adalah sekumpulan barang-barang berharga lainnya dari orang
tua pengantin pria untuk mempelai wanita.

4. Chinyoung ( Upacara Pernikahan )
Menurut adat, upacara pernikahan dilangsungkan di rumah keluarga mempelai
wanita . Pengantin pria biasanya menunggang kuda atau kuda pony dan para
pembantu atau pelayan berjalan kaki ke rumah mempelai wanita. Para pembantu
seringkali memainkan alat-alat musik untuk menciptakan suasana riang gembira.
Dalam proses pernikahan ini ada beberapa langkah yang dilakukan, yaitu:
            a. Jeonanrye ( Penyerahan angsa liar ).
Selama proses berjalan, Girukabi ( orang yang berjalan paling depan ) memegang
sebuah Kireogi ( angsa liar ) dari kayu. Tiba di rumah mempelai wanita, Girukabi
memberikan Kierogi kepada pengantin pria yang kemudian diberikan kepada ibu
mempelai wanita. Pemberian angsa liar ini melambangkan janji atau ikrar
pengantin pria untuk setia selamanya kepada mempelai wanita. Dulu kala
digunakan angsa liar hidup, tetapi sekarang sudah diganti dengan angsa buatan
dari kayu.
           b. Gyobaerye ( Membungkukkan badan )
Acara ini menandai saat pertama kalinya mempelai wanita dan mempelai pria
saling bertemu satu sama lain. Pada upacara ini mempelai saling membungkukan
badan satu sama yang lainnya. Pertama-tama mempelai wanita membungkuk kan
badan 2 kali, kemudian pengantin pria membunggkuk sekali sebagai balasa. Acara ini
berlangsung 2 kali. Kedua mempelai akan mengakhiri acara ini dengan saling
berhadapan sambil berlutut. Proses membungkukkan badan itu melambangkan ikrar
keterikatan satu sama lain.
            c. Hapgeunrye ( Minum anggur )
Dalam upacara ini anggur disajikan dalam tempat dari buah labu. Tempat ini
merupakan setengah dari buah labu yang telah dikosongkan dan dikeringkan,
melambangkan pria dan wanita. Artinya mempelai wanita dan mempelai pria
tadinya satu, dilahirkan secara terpisah dan kini dipersatukan kembali melalui
pernikahan.
5. Pyebaek ( Membungkuk kepada orang tua mempelai laki-laki ).
Setelah upacara pernikahan pengantin wanita dan pengantin pria duduk berdampingan
dan memberi penghormatan kepada keluarga pengantin pria. Ibu mertua melemparkan
jujube ( sejenis buah-buahan ) pada rok mempelai wanita, mengharapkan pengantin
akan dikaruniai banyak anaK.
Budaya dalam Hal Keturunan

Dalam budaya Korea , keturunan atau anak dianggap sebagai sebuah anugerah yang amat besar dari Tuhan. Oleh karena itu, setiap keluarga disarankan untuk memiliki paling tidak seorang keturunan. Oleh karena budaya yang amat menghormati anugerah Tuhan tersebut, aborsi yang bersifat sengaja akan diberikan hukuman yang amat berat secara adapt, yaitu hukuman mati kepada sang Ibu dan orang lain yang mungkin terlibat di dalamnya, seperti suaminya (jika suaminya yang memaksa), dokter (jika dokter yang memberikan sarana untuk aborsi), dan lain-lain. Akan tetapi, secara hukum, tidak akan diadakan hukuman mati. Hukuman mati biasanya hanya dilaksanakan di daerah pedalaman Korea di mana adat masih berpengaruh secara kuat.

Pembagian harta warisan dalam budaya ini amatlah adil. Tanpa memperdulikan jenis kelamin, keturunan dari seseorang akan mendapatkan pembagian harta dengan jumlah yang sama dengan saudara-saudaranya. Akan tetapi, dalam prakteknya ini tidak selalu terjadi. Kebanyakan orang tua menyisihkan lebih banyak harta warisan kepada anak tertua mereka.

Budaya Makanan

Dalam budaya Korea, ada satu makanan khas yang memiliki suatu arti yang tidak dimiliki oleh makanan lainnya. Makanan ini disebut kimchi. Di setiap session makanan, ketidakberadaan kimchi akan memberikan kesan tidak lengkap.

Kimchi adalah suatu makanan yang biasanya merupakan sayuran yang rendah kalori dengan kadar serat yang tinggi (misalnya bawang, kacang panjang, selada, dan lain-lain) yang dimasak sedemikian rupa dengan bumbu dan rempah-rempah sehingga menghasilkan rasa yang unik dan biasanya pedas. Dalam kenyataannya (menurut hasil penelitian kesehatan WHO), jenis-jenis kimchi memiliki total gizi yang jauh lebih tinggi dari buah manapun.

Hal yang membuat kimchi menjadi makanan yang spesial ada banyak faktornya. Faktor pertama adalah pembuatannya. Kimchi (dalam hal ini adalah kimchi yang dihidangkan untuk acara-acara spesial, bukan kimchi untuk acara makan biasa dan sehari-hari) dibuat oleh wanita dari keluarga bersangkutan yang mengadakan acara tersebut dan hanya bisa dibuat pada hari di mana acara tersebut dilaksanakan. Semakin banyak wanita yang turut membantu dalam pembuatan kimchi ini, semakin “bermakna” pula kimchi tersebut. Kimchi juga merupakan faktor penentu kepintaran atau kehebatan seorang wanita dalam memasak. Konon katanya, jika seorang wanita mampu membuat kimchi yang enak, tidak diragukan lagi kemampuan wanita tersebut dalam memasak makanan lain. Faktor ketiga adalah asal mula kimchi. Kimchi pada awalnya dibuat oleh permaisuri dari Raja Sejong sebagai hidangan untuk perayaan Sesi.

Kebiasaan / Tradisi

Ada sebuah tradisi / kebiasaan yang cukup terkenal di Korea. Tradisi ini dinamakan “sesi custom”. Tradisi sesi dilaksanakan sekali setiap tahun. Sesi adalah sebuah tradisi untuk mengakselerasikan ritme dari sebuah lingkaran kehidupan tahunan sehingga seseorang dapat lebih maju di lingkaran kehidupan tahun berikutnya.

Tradisi sesi dilaksanakan berdasarkan kalender bulan (Lunar Calender). Matahari, menurut adat Korea , tidak menunjukkan suatu karakteristik musiman. Akan tetapi, Bulan menunjukkan suatu perbedaan melalui perubahan fase bulan. Oleh karena itu, lebih mudah membedakan adanya perubahan musim atau waktu melalui fase bulan yang dilihat.

Dalam tradisi sesi, ada lima dewa yang disembah, yaitu irwolseongsin (dewa matahari bulan dan bintang), sancheonsin(dewa gunung dan sungai), yongwangsin (raja naga), seonangsin (dewa kekuasaan), dangasin (dewa rumah). Kelima dewa ini disembah karena dianggap dapat mengubah nasib dan keberuntungan seseorang.

Pada hari di mana sesi dilaksanakan, akan diadakan sebuah acara makan malam antar sesama keluarga yang pertalian darahnya dekat (orang tua dengan anaknya). Acara makan wajib diawali dengan kimchi dan lalu dilanjutkan dengan “complete food session”.

Ada juga mitos lain dalam memperoleh keberuntungan menurut tradisi Korea, antara lain “nut cracking” yaitu memecahkan kulit kacang-kacangan yang keras pada malam purnama pertama tahun baru, “treading on the bridge” yaitu berjalan dengan sangat santai melewati jembatan di bawah bulan purnama pada malam purnama pertama tahun baru yang katanya dapat membuat kaki kita kuat sepanjang tahun, dan “hanging a lucky rice scoop” yaitu menggantungkan skop (sendok) pengambil nasi di sebuah jendela yang katanya akan memberi beras yang melimpah sepanjang tahun.

Kesenian

Kesenian tradisional di Korea, dalam hal ini musik dan tarian, diperuntukkan khusus sebagai suatu bagian dalam penyembahan “ lima dewa”.

Ada beberapa alat musik tradisional yang digunakan, misalnya hyeonhakgeum (sejenis alat musik berwarna hitam yang bentuknya seperti pipa dengan tujuh buah senar) dangayageum (alat musik mirip hyeonhakgumtetapi bentuk, struktur, corak, dan cara memainkannya berbeda dan memiliki dua belas buah senar).

Tarian tradisional yang cukup terkenal di Korea antara lain cheoyongmu (tarian topeng), hakchum (tarian perang), danchunaengjeon (tarian musim semi). Tarianchunaengjeon ditarikan sebagai tanda terima kasih kepada dewa irwolseongsin dan dewasancheonsin atas panen yang berhasil.

Peninggalan Bersejarah

Di Korea terdapat banyak peninggalan sejarah yang berasal dari masa Dinasti Joseon, seperti Taman Jongmyo yang didalamnya terdapat banyak prasasti-prasasti dan disini biasa dilaksanakan upacara-upacara keagamaan atau mistik yang besar. Ada juga istana-istana Dinasti Joseion antara lain Gyeongbokgung (dibangun pada tahun 1394), Changdeokgung (tidak diketahui kapan dibangun tetapi bangunan ini ditemukan pada tahun 1592),Changgyeonggung (anak istana dari istanaChangdeokgung), dan Deoksugung yang saat ini telah dijadikan sebagai kantor Walikota Seoul.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: